POTRET CALON NAKHODA PBNU
KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Di tengah perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua, nama KH. Muhammad Yusuf Chudlori, atau yang lebih akrab disapa Gus Yusuf, menjadi salah satu tokoh yang banyak diperbincangkan. Beliau dikenal sebagai kiai pesantren, budayawan, sekaligus pemimpin organisasi yang berhasil memadukan nilai-nilai tradisi dengan semangat perubahan.
Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Gus Yusuf tidak hanya melanjutkan estafet perjuangan para ulama pendahulu, tetapi juga menghadirkan berbagai inovasi di bidang pendidikan, budaya, ekonomi pesantren, hingga dakwah digital. Sosoknya dikenal dekat dengan masyarakat, sederhana, dan memiliki kepedulian besar terhadap persatuan warga Nahdlatul Ulama.
Lahir dari Keluarga Ulama Pejuang
Gus Yusuf lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 9 Juli 1973. Beliau merupakan putra dari KH. Chudlori Musthofa, pendiri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, salah satu pesantren salaf terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.
Dari jalur keluarga, beliau juga merupakan cucu menantu KH. Dalhar Watucongol, ulama kharismatik yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di Jawa Tengah.
Ketika ayahnya wafat pada tahun 1977, Gus Yusuf diasuh oleh kakaknya, KH. Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur). Di bawah bimbingan sang kakak, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sangat kuat, menjunjung tinggi adab, keilmuan, dan pengabdian kepada umat.
Kini, bersama istrinya Nyai Vina Rohamatul Ummah, beliau membangun keluarga yang dikaruniai enam orang anak, sekaligus melanjutkan tradisi kepemimpinan pesantren yang telah berlangsung lintas generasi.
Menempuh Jalan Santri
Berbeda dengan banyak tokoh yang menempuh pendidikan tinggi di perguruan tinggi, perjalanan intelektual Gus Yusuf sepenuhnya dibentuk melalui tradisi pesantren salaf.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Magelang, beliau berangkat mondok ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada tahun 1985. Selama hampir sepuluh tahun beliau belajar langsung kepada KH. Idris Marzuki, memperdalam fikih, tafsir, hadis, nahwu, sharaf, hingga berbagai disiplin ilmu keislaman klasik.
Kehausan terhadap ilmu membawanya melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, kemudian ke Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen. Rangkaian perjalanan tersebut membentuk karakter Gus Yusuf sebagai ulama yang memiliki sanad keilmuan kuat sekaligus memahami kekayaan tradisi pesantren Nusantara.
Melanjutkan Perjuangan API Tegalrejo
Sepeninggal Mbah Dur pada tahun 2011, Gus Yusuf dipercaya melanjutkan kepemimpinan Pondok Pesantren API Tegalrejo.
Di bawah kepemimpinannya, pesantren terus berkembang sebagai pusat pendidikan Islam yang tetap menjaga tradisi kitab kuning, namun juga terbuka terhadap perkembangan zaman. Bagi Gus Yusuf, pesantren harus mampu melahirkan santri yang alim dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi.
Beliau juga aktif membangun berbagai program pemberdayaan masyarakat yang melibatkan santri sebagai bagian dari proses pendidikan.
Kiprah Organisasi dan Politik
Selain aktif mengasuh pesantren, Gus Yusuf juga memiliki perjalanan panjang di dunia organisasi dan politik kebangsaan.
Beliau mulai terlibat dalam Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak masa Reformasi atas arahan Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karier organisasinya berkembang mulai dari Ketua DPC PKB Kabupaten Magelang, hingga dipercaya menjadi Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, nama Gus Yusuf juga banyak disebut sebagai salah satu tokoh yang memiliki kapasitas memimpin organisasi pada level nasional. Hal tersebut tidak lepas dari pengalamannya memimpin pesantren besar, kedekatannya dengan warga Nahdliyin, serta kemampuannya membangun komunikasi lintas kalangan.
Berkarya Lewat Budaya dan Media
Bagi Gus Yusuf, dakwah tidak hanya dilakukan dari atas mimbar. Seni, budaya, dan media juga merupakan sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang damai dan membangun.
Beliau menjadi salah satu penggagas Festival Suran Tegalrejo, sebuah perhelatan budaya yang mempertemukan tradisi Jawa, seni rakyat, dan nilai-nilai pesantren dalam satu ruang kebersamaan. Bersama para budayawan, termasuk Komunitas Lima Gunung, beliau menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi jembatan dakwah yang menyejukkan.
Di bidang media, Gus Yusuf mendirikan Fast FM, radio yang menyasar kalangan muda dengan konten dakwah, pendidikan, dan informasi. Beliau juga aktif memanfaatkan berbagai platform digital melalui Gus Yusuf Channel untuk menghadirkan dakwah yang santun, edukatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Tidak hanya itu, beliau juga mendorong tumbuhnya ekosistem UMKM pesantren, sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi santri dan masyarakat sekitar.
Gagasan tentang Nahdlatul Ulama
Dalam pandangan Gus Yusuf, kekuatan Nahdlatul Ulama tidak hanya terletak pada besarnya jumlah warga, tetapi pada kemampuan menjaga persatuan dan tradisi keilmuan.
Beliau menegaskan bahwa dakwah di era digital harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Media sosial memang menjadi ruang dakwah baru, tetapi tidak boleh digunakan tanpa bekal ilmu yang memadai. Menurutnya, dakwah digital harus tetap berpijak pada tradisi pesantren dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Gus Yusuf juga menaruh perhatian besar pada pentingnya menjaga ukhuwah nahdliyah. Perbedaan pandangan politik maupun dinamika organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persaudaraan. NU, menurut beliau, harus tetap menjadi rumah besar yang mampu merangkul seluruh warganya.
Salah satu gagasan menarik yang terus beliau suarakan adalah pentingnya memadukan agama dan budaya. Menurutnya, keduanya bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Seni dan budaya justru menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang ramah, memperkuat toleransi, serta menjaga karakter masyarakat Indonesia yang beragam.
Dengan demikian KH. Muhammad Yusuf Chudlori merupakan contoh bagaimana seorang kiai mampu menjaga warisan pesantren sambil menghadirkan berbagai inovasi untuk menjawab kebutuhan zaman. Melalui pendidikan, budaya, media, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat, beliau menunjukkan bahwa dakwah dapat dilakukan dengan cara yang kreatif tanpa meninggalkan akar tradisi.
Perjalanan hidup Gus Yusuf mengajarkan bahwa pesantren bukan hanya tempat mencetak ahli agama, tetapi juga ruang lahirnya pemimpin yang mampu merawat budaya, memperkuat persatuan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan masa depan Nahdlatul Ulama.
Penulis: Himami Andalusia
NU Online Banyuwangi
Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.
Berita Terkait
Opini
MUKTAMAR KE-35 NU: ANTARA KEDAULATAN MUKTAMIRIN DAN SENYAPNYA SEBUAH PENGONDISIAN
Opini