POTRET CALON NAKHODA PBNU
KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), nama KH. Abdul Ghaffar Rozin, atau yang akrab disapa Gus Rozin, dikenal sebagai sosok ulama muda yang berhasil memadukan tradisi pesantren dengan semangat inovasi. Berangkat dari keluarga ulama besar, beliau tumbuh menjadi akademisi, pemimpin organisasi, sekaligus penggerak transformasi pendidikan pesantren di Indonesia.
Saat ini, Gus Rozin dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029. Selain itu, beliau juga menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Ketua Majelis Masyayikh, serta Rektor Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA). Berbagai peran tersebut menunjukkan komitmennya dalam membangun pesantren agar tetap kokoh memegang tradisi sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.
Lahir dari Keluarga Ulama Besar
Gus Rozin lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 31 Juli 1976. Beliau merupakan putra dari KH. M.A. Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU sekaligus tokoh besar penggagas Fikih Sosial yang pemikirannya banyak menjadi rujukan di Indonesia.
Ibunya, Nyai Hj. Dra. Nafisah Sahal, juga dikenal sebagai tokoh Muslimat NU, pengasuh pesantren, dan pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Dari lingkungan keluarga inilah Gus Rozin tumbuh dengan tradisi ilmu, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui jalur keluarga, beliau juga memiliki kedekatan dengan tradisi keilmuan Pondok Pesantren Lirboyo, sehingga sejak kecil telah akrab dengan atmosfer pesantren yang kuat.
Menyatukan Tradisi Pesantren dan Pendidikan Global
Perjalanan pendidikan Gus Rozin menunjukkan bagaimana tradisi pesantren dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan modern.
Beliau menempuh pendidikan dasar hingga Madrasah Aliyah di Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen, salah satu lembaga pendidikan Islam yang dikenal melahirkan banyak ulama dan intelektual NU.
Di luar pendidikan formal, Gus Rozin juga nyantri di Pondok Pesantren Kulon Banon Kajen serta Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri. Di pesantren tersebut beliau memperdalam fikih, ushul fikih, ilmu alat, dan tradisi keilmuan khas pesantren.
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, beliau melanjutkan studi ke STAI Al-Aqidah Jakarta hingga memperoleh gelar sarjana. Semangat belajarnya kemudian membawanya meraih gelar Master of Education dari Monash University, Australia, salah satu perguruan tinggi terbaik dunia. Tidak berhenti di sana, beliau menyelesaikan program doktor di UIN Walisongo Semarang dengan fokus pada pengembangan pendidikan Islam.
Perjalanan akademik tersebut membentuk karakter Gus Rozin sebagai ulama yang mampu memadukan khazanah pesantren dengan pendekatan manajemen pendidikan modern.
Mengabdi untuk Pesantren dan Nahdlatul Ulama
Sepulang dari studi, Gus Rozin memilih kembali mengabdi di dunia pendidikan pesantren. Beliau melanjutkan estafet kepemimpinan di Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, pesantren yang didirikan dan dibesarkan oleh keluarga beliau.
Selain itu, beliau dipercaya menjadi Rektor Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA). Di kampus berbasis pesantren tersebut, ia mendorong lahirnya sistem pendidikan yang tetap berpijak pada tradisi salaf, namun mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam organisasi Nahdlatul Ulama, perjalanan kepemimpinannya juga cukup panjang. Gus Rozin pernah menjabat sebagai Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, organisasi yang menaungi ribuan pesantren NU di seluruh Indonesia. Beliau juga pernah dipercaya menjadi Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Keagamaan Domestik, yang semakin memperluas pengalaman kepemimpinannya dalam bidang kebijakan publik.
Pada tahun 2024, beliau terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, sekaligus dipercaya menjadi Ketua Majelis Masyayikh, lembaga independen yang bertugas menyusun standar mutu pendidikan pesantren sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pesantren.
Mengubah Wajah Pesantren Lewat Gerakan "Ayo Mondok"
Salah satu kontribusi terbesar Gus Rozin adalah lahirnya Gerakan Nasional Ayo Mondok.
Melalui gerakan ini, beliau berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap pesantren. Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kreativitas, dan kemandirian.
Lewat berbagai media digital, video, kampanye publik, hingga kolaborasi dengan banyak lembaga, gerakan ini berhasil memperkenalkan wajah pesantren yang lebih modern, terbuka, dan dekat dengan generasi muda.
Selain itu, beliau juga termasuk salah satu tokoh yang aktif mengawal lahirnya Hari Santri Nasional, sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Produktif Mengembangkan Gagasan
Sebagai akademisi, Gus Rozin aktif menulis dan mengembangkan berbagai gagasan mengenai masa depan pendidikan Islam.
Beberapa karya dan inisiatif intelektualnya antara lain:
- Pesantren Masa Depan, yang membahas strategi pesantren menghadapi era digital tanpa kehilangan identitas salaf.
- Kamus Istilah Pesantren, sebagai upaya memperkenalkan budaya dan tradisi pesantren kepada masyarakat luas.
- Berbagai artikel ilmiah tentang manajemen pendidikan Islam, penjaminan mutu pesantren, dan transformasi kelembagaan pendidikan.
- Konsep Gerakan Nasional Ayo Mondok, yang menjadi salah satu gerakan literasi dan dakwah paling berpengaruh dalam mengenalkan pesantren kepada generasi muda.
Bagi Gus Rozin, karya tidak selalu berbentuk buku, tetapi juga dapat hadir melalui gerakan sosial yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Gagasan Besar tentang Nahdlatul Ulama
Dalam berbagai kesempatan, Gus Rozin menawarkan arah baru bagi Nahdlatul Ulama melalui tiga gagasan utama: Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat.
NU Berdaulat berarti NU harus tetap independen, menjaga Khittah 1926, dan menjadi mitra kritis pemerintah (shadiqul hukumah). NU harus mampu memberikan masukan secara objektif tanpa terjebak dalam kepentingan politik praktis.
NU Bermartabat berarti memperkuat ukhuwah nahdliyah dan membangun budaya dialog di internal organisasi. Perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui musyawarah, bukan konflik yang melemahkan persaudaraan.
NU Bermanfaat berarti seluruh energi organisasi harus diarahkan untuk melayani masyarakat. Penguatan rumah sakit NU, sekolah, pesantren, koperasi, UMKM, hingga digitalisasi pelayanan organisasi menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan manfaat yang nyata bagi warga.
Selain itu, sebagai Ketua Majelis Masyayikh, beliau juga mendorong hadirnya standar mutu pendidikan pesantren yang diakui secara nasional. Menurutnya, santri harus memiliki daya saing global tanpa kehilangan identitas sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Dengan demikian KH. Abdul Ghaffar Rozin merupakan representasi generasi baru ulama Nahdlatul Ulama yang mampu menghubungkan tradisi pesantren dengan perkembangan dunia modern. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pengajaran agama, tetapi juga pusat inovasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui berbagai peran yang diembannya, Gus Rozin terus memperjuangkan Nahdlatul Ulama yang mandiri, berwibawa, dan benar-benar hadir memberikan manfaat bagi umat. Bagi generasi muda, beliau menghadirkan pesan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan, tetapi menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Penulis: Himami Andalusia
NU Online Banyuwangi
Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.
Berita Terkait
Opini
MUKTAMAR KE-35 NU: ANTARA KEDAULATAN MUKTAMIRIN DAN SENYAPNYA SEBUAH PENGONDISIAN
Opini